1. Pengertian Oksigenasi
Oksigenasi
adalah proses penambahan O2 ke dalam sistem (kimia dan fisika). Oksigen (O2)
merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan dalam
proses metabolisme sel. Sebagai hasilnya, terbentuklah karbondioksida, energi
dan air. Akan tetapi, penambahan CO2 yang melebihi batas normal pada tubuh akan
memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktivitas sel.
2. Fungsi Pernapasan
Pernapasan
atau respirasi adalah proses pertukaran gas antara individu dan lingkungan.
Fungsi utama pernapasan adalah untuk
memperoleh O2 agar dapat digunakan oleh sel-sel tubuh dan mengeluarkan
CO2 yang dihasilkan oleh sel. Saat bernapas, tubuh mengambil O2 dari lingkungan
untuk kemudian diangkut ke seluruh tubuh (sel-selnya) melalui darah yang
digunakan untuk pembakaran. Selanjutnya sisa pembakaran berupa CO2 akan kembali diangkut oleh darah
ke paru-paru untuk dibuang ke lingkungan karena tidak berguna lagi oleh tubuh.
3. Kebutuhan Oksigen
Kapasitas
(daya muat) udara dalam paru-paru adalah 4500-5000 ml (4,5-5 L) udara yang
diproses di paru-paru sekitar 10% (500ml) yakni yang dihirup (inspirasi) dan
yang dihembuskan (ekspirasi) pada pernapasan biasa.
4. Proses Oksigenasi
Proses
pemenuhan kebutuhan oksigenasi di dalam tubuh terdiri atas tiga tahapan, yaitu
ventilasi, difusi dan transportasi.
1. Ventilasi
Proses
ini merupakan proses keluar dan masuknya oksigen dan atmosfer ke dalam alveoli
atau dari alveoli ke atmosfer. Proses ventilasi ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain:
a. Adanya
perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru, semakin tinggi tempat, maka
tekanan udara semakin rendah. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah, maka
tempat tekanan udara semakin tinggi.
b. Adanya
kemampuan toraks dan paru pada alveoli dalam melaksanakan ekspansi atau kembang
kempis.
c. Adanya
jalan napas yang dimulai dari hidung hingga alveoli yang terdiri atas berbagai
otot polos yang kerjanya sangat dipengaruhi oleh sistem saraf otonom.
Terjadinya rangsangan simpatis dapat menyebabkan relaksasi sehingga dapat
terjadi vasodilatasi, kemudian kerja syaraf parasimpatis dapat menyebabkan
kontriksi sehingga dapat menyebabkan vasokontriksi atau proses penyempitan.
d. Adanya
reflek batuk dan muntah
e. Adanya
peran mukusiliaris sebagai penangkal benda asing yang mengandung interveron dan
dapat mengikat virus. Pengaruh proses ventilasi selanjutnya adalah complience
recoil. Complience yaitu kemampuan paru untuk mengembang yang dipengaruhi oleh
berbagai faktor, surfaktan pada lapisan alveoli yang berfungsi untuk menurunkan
tegangan permukaan dan adanya sisa udara yang menyebabkan tidak terjadinya
kolaps dan gangguan toraks. Surfaktan diproduksi saat terjadi peregangan sel
alveoli, dan disekresi saat pasien menarik nafas, sedangkan recoil adalah
kemampuan untuk mengeluarkan CO² atau kontraksi menyempitnya paru. Apabila complience
baik akan tetapi recoil terganggu maka CO² tidak dapat keluar secara maksimal.
Pusat
pernapasan yaitu medula oblongata dan pons dapat mempengaruhi proses ventilasi,
karena CO² memiliki kemampuan merangsang pusat pernapasan. Peningkatan CO²,
dalam batas 60mmhg dapat dengan baik merangsang pusat pernapasan dan bila pada
CO², kurang dari sama dengan 80mmhg maka dapat menyebabkan depresi pusat
pernapasan.
2. Difusi
gas
Difusi
gas merupakan pusat pertukaran antara oksigen dialveoli dengan kapiler paru dan
CO², dikapiler dengan alveoli. Proses pertukaran ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu:
a. Luasnya
permukaan paru
b. Tebal
membran respirasi/permeabilitas yang terdiri atas epitel alveoli dan
interstisial keduanya ini mempengaruhi proses difusi apabila terjadi proses
penebalan.
c. Perbedaan
tekanan dan konsentrasi O² hal ini dapat terjadi sebagaimana O² dari alveoli
masuk kedalam darah oleh karena tekanan O² dalam rongga alveoli lebih tinggi
dari tekanan O² dalam darah vena pulmonalis, (masuk dalam darah secara
berdifusi).
d. Avinitas
gas yaitu kemampuan untuk menembus dan saling mengikat Hb
3. Transportasi
gas
Transportasi
gas merupakan proses pendistribusian antara O² kapiler ke jaringan tubuh dan CO²
jaringan tubuh ke kapiler. Pada proses transportasi, akan berikatan dengan Hb
membentuk oksihemoglobin (97%) dan larut dalam plasma (3%), sedangkan CO² akan
berikatan dengan Hb membentuk karbominohemoglobin (30%), dan larut dalam plasma
(50%) dan sebagian menjadi HCO3 berada pada darah (65%).
Transportasi
gas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:
a. Curah
jantung (kardiak output) yang dapat dinilai melalui isi sekuncup dan frekuensi
denyut jantung.
b. Kondisi
pembuluh darah, latihan, dll.
5. Pengaturan
Pernapasan
Pengaturan
pernapasan terdiri atas kontrol saraf dan kimia untuk mempertahankan
konsentrasi normal oksigen, karbondioksida, dan ion hidrogen di dalam cairan
tubuh. Sistem saraf tubuh menyesuaikan kecepatan ventilasi alveolar untuk
memenuhi kebutuhan tubuh sehingga O2 dan CO2 tetap relatif konstan. “pusat
pernapasan” tubuh sebenarnya merupakan sejumlah kelompok saraf yang berada di
dalam medula oblongata dan pons serebral.
Pusat
kemosensitif yang berada di medula oblongata sangat responsif terhadap
peningkatan CO2 darah atau ion konsentrasi ion hidrogen. Dengan memengaruhi
proses pernapasan lain, pusat ini dapat meningkatkan aktivitas pusat inspirasi
dan frekuensi serta kedalaman respirasi. Selain stimulasi kimia secara langsung
pada pusat pernapasan di otak, reseptor saraf khusus yang sensitif terhadap
penurunan konsentrasiO2 berada di luar sisem saraf pusat di dalam korpus
karotis ( tepat di atas percabangan arteri karotis komunis) dan korpus aorta.
Penurunan konsentrasi oksigen arterial menstimulasi kemoreseptorini dan
kemudian pada gilirannya akan menstimulasi pusat pernapasan untuk meningkatkan
ventilasi. Dari ketiga gas darah ( hidrogen, oksigen dan karbondioksida) yang
dapat mencetuskan kemoreseptor, peningktan konsentrasi karbon dioksida
normalnya adalah yang paling kuat menstimulasi pernapasan.
Namun
pada klien yang mempunyai penyakit paru kronis seperti emfisema, konsentrasi
oksigen, bukan konsentrasi karbon dioksida, memainkan peran utama dalam
pengaturan pernapasan. Untuk klien tersebut, penurunan konsentrasi oksigen
merupakan stimulus utama untuk pernapasan. Ini kadang kala disebut sebagai
dorongan hipoksik. Peningkatan konsentrasi oksigen menekan konsentrasi
pernapasan. Dengan demikian, klien ini hanya diberikan seplemen oksigen
berkonsentrasi rendah.
6. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Fungsi Pernapasan
·
Usia
Faktor
perkembangan merupakan pengaruh yang sangat penting dalam fungsi pernapasan.
Saat lahir, perubahan yang sangat jelas terjadi dalam sistem pernapasan. Air
yang terdapat dalam paru akan keluar, CO2 meningkat, dan neonatus mengambil
napas pertama. Paru secara bertahap akan berkembang pada setiap pernapasan
berikutnya, mencapai inflasi penuh pada usia 2 minggu. Perubahan yang terjadi
karena penuaan yang memengaruhi sistem pernapasan lansia menjadi sangat penting
jika sistem mengalami gangguan akibat perubhan seperti infeksi, stres fisik
atau emosional, pembedahan, anestesi, atau prosedur lain. Perubahan-perubahan
tersebut adalah:
1. dinding
dada dan jalan napas menjadi lebih kaku dan kurang elastis
2. jumlah
pertukran darah menurun
3. refleks
batuk dan kerja silia berkurang
4. membran
mukosa menjadi lebih kerig dan lebih rapuh
5. terjadi
penurunan kekuatan otot dan daya tahan
6. apabila
terjadi osteoporosis, keadekuatan ekspansi paru dapat menurn.
7. Terjadi
penurunan efisiensi sistem imun
8. Penyakit
refluks gastroesofagus lebih sering terjadi pada lansia dan meningkatkan resiko
aspirasi. Aspirasi isi lambung ke dalam paru sering kali menyebabkan
bronkospasne dengan menimbulkan respons inflamasi
·
Lingkungan
Ketinggian,
panas,dingin, dan polusi udara memengaruhi oksigenasi. Semakin tinggi permukaan
tanah semakin rendah O2 dalam pernapasan individu. Akibatnya orang yang berada
di ketinggian mengalami peningkatan frekuensi pernapasan dan frekuensi denyut
nadi serta peningkatan kedalaman pernapasan, yang biasanya menjadi paling jelas
terlihat saat individu berolahraga.
Orang sehat yang
terpajan polusi udara, seperti asap, sering kali mengalami rasa seperti
tersengat pada mata, sakit kepala, pusing, batuk, dan tersedak. Orang yang
memiliki riwayat penyakit paru dan masih di derita hingga kini dan orang yang
mengalami perubahan fungsi pernapasan mengalami berbagai tingkat kesulitan
pernapasan di lingkungan yang berpolusi. Beberapa orang tidak mampu melakukan
perawatan diri dalam lingkungan seperti itu.
·
Gaya Hidup
Olahraga
fisik atau aktifitas fisik meningkatkan frekuensi dan kedalaman pernapasan dan oleh karena itu juga meningkatkan suplai okisigen di dalam
tubuh. Sebaliknya, orang yang banyak duduk, kurang memiliki ekspansi alveolar
dan pola napas dalam seperti yang dimiliki oleh orang yang melakukan aktivitas
secara teratur dan mereka tidak mampu berespon secara efektif terhadap stresor
pernapasan.
Pekerjaan
tertentu menyebabkan individu terkena penyakit paru. Misalnya, silikosis lebih
sering di derita oleh pemecah batu pasir dan pengrajin tembikar di bandingkan
populasi lain; asbestosis dijumpai pada pekerja asbestos;antrakosis dijumpai
pada penambang batu baru;dan penyakit debu organik dijumpai pada petani dan
pekerja pertanian yang bekerja dengan jerami yang berjamur.
·
Status Kesehatan
Pada
orang sehat, sistem pernapasan dapat memberikan cukup oksigen untuk memenuhi
kebutuhan tubuh. Namun, penyakit sistem pernapasan dapat memengaruhi oksigenasi
darah secara buruk.
·
Medikasi
Beragam
pengobatan dapat mengurangi frekuensi dan kedalaman pernapasan. Obat yang
paling sering menyebabka efek ini adalah hipnotik-sedatif benzodiazepin dan
obat antiansietas [misalnya, diazepam (valium), flurazepam (dalmane), midazolam
(versed)], barbiturat (misalnya, fenobarbital), dan narkotik seperti morfin dan
meperidin hidroklorida (demerol). Saat memberikan obat ini, perawat harus
memantau status pernapasan secara cermat, terutama jika obat baru dimulai atau
jika dosisnya ditingkatkan. Walaupun keamanan obat ini mengkhawatirkan,
seringkali manfaat obat melebihi resiko depresi pernapasan.
·
Stres
Apabila
stres dan stresor dihadapi, baik respons psikologis maupun fisiologis dapat
memengaruhi oksigenasi. Beberapa orang dapat mengalami hiperventilasi sebagai
respons terhadap stres. Apabila ini terjadi, O2 arteri meningkat dan CO2
menurun. Akibatnya, orang dapat mengalami berkunang-kunang dan kebas serta
kesemutan pada jari tangan, jari kaki, dan disekitar mulut.
Secara
fisiologis, sistem saraf simpatik di stimulasi dan epinefrin dilepaskan.
Epinefrin menyebabkan bronkiolus berdilatasi, meningkatkan aliran darah dan
penghantaran oksigen ke otot aktif. Walaupun respon ini bersifat adaptif dalam
jangka pendek, apabila stres berlanjut maka respon ini dapat merusak, yang
meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler.
Fungsi
pernapasan dapat berubah karena kondisi yang memengaruhi
1. Pergerakan
udara masuk atau keluar dari paru
2. Difusi
oksigen dan karbon dioksida antara alveolus dan kapiler paru
3. Transpor
oksigen dan karbon dioksida melalui darah ke dan dari sel jaringan
Tiga
perubahan utama dalam pernapasan adalah hipoksia, perubahan pola pernapasan dan
obstruksi jalan napas total atau sebagian.
·
Hipoksia
Hipoksia
adalah suatu kondisi ketidakcukupan oksigen di tempat manapun di dalam tubuh,
dari gas yang di inspirasi ke jaringan. Hipoksia dapat dihubungksn dengan
setiap bagian dalam pernapasan-ventilas, difusi gas, atau transpor gas oleh
darah-dan dapat disebabkan oleh setiap kondisi yang mengubah satu atau semua
bagian dalam proses tersebut.
Hipoventilasi yaitu
ketidakadekuatan ventilasi alveolar, dapat menyebabkan hipoksia. Hipoventilasi
dapat terjadi karena penyakit otot pernapasan, obat-obatan, atau anestesi.
Dengan hipoventilasi, karbon dioksida sering kali menumpuk dalam darah, sebuah
kondisi yang disebut hiperkarbia (hiperkapnia).
Hipoksia juga
dapat terjadi jika difusi oksigen dari alveolus ke darah arterial menurun, seperti
pada edema paru, atau hipoksia dapat terjadi akibat masalah dalam penghantaran
oksigen kejaringan (misalnya, anemia, gagal jantung, dan embolisme). Istilah
hipoksemia menunjukkan penurunan oksigen di dalam darah dan ditandai dengan rendahnya
tekanan parsial oksigen di darah arterial atau rendahnya saturasi hemoglobin.
Tanda-tanda hipoksia antara lain :
-
Denyut nadi cepat
-
Pernapasan cepat, dangkal, dan dispnea
-
Peningkatan gelisah atau
berkunang-kunang
-
Napas cuping hidung
-
Retraksi substernum atau interkosta
-
Sianosis
Sianosis
(tanda kebiruan pada kulit, bantalan kuku, dan membran mukosa, akibat penurunan
saturasi oksigen hemoglobin) dapat juga terjadi. Sianosis terjadi apabila
terdapat dua kondisi berikut; darah harus mengandung sekitar 5 gram atau lebih hemoglobin
tanpa oksigen/100ml darah dan permukaan kapiler darah harus dilatasi. Beberapa
faktor yang memengaruhi kedua kondisi ini (misalnya, anemia berat atau
pemberian epinefrin) akan menghilangkan tanda sianosis bahkan jika klien
mengalami hipoksia.
Oksigenasi
yang adekuat sangat penting untuk fungsi serebral. Korteks serebral dapat
menoleransi hipoksia hanya selama 3-5 menit sebelum terjadi kerusakan permanen.
Wajah orang yang mengalami hipoksia akut biasanya tampak cemas, letih dan
tertekan. Individu biasanya mengambil posisi duduk, sering kali agak condong
kedepan untuk memungkinkan ekspansi rongga toraks yang lebih besar.
Dengan
hipoksia kronis, klien seringkali tampak letih dan letargi. Jari tangan dan
jari kaki klien dapat menjadi seperti gada akibat kekurangan oksigen dalam
waktu lama di dalam suplai darah arterial. Pada jari gada, dasar kuku menjadi
membengkak dan ukuran ujung jari tangan dan kaki membesar. Sudut antara kuku
dan dasar kuku meningkat sampai lebih dari 180 derajat.
·
Perubahan Pola Pernapasan
Pola
pernapasan menunjukkan frekuensi, volume, irama, dan kemudahan relatif atau
upaya pernapasan. Respirasi normal (eupnea) bersifat tenang, berirama, dan
tanpa mengeluarkan usaha. Takipnea (frekuensi cepat) dijumpai pada saat demam,
asidosis metabolik, nyeri, dan hiperkepnia atau hipoksemia. Bradipnea adalah
frekuensi pernapasan yang lambat secara abnormal, yang dapat dijumpai pada
klien yang menggunakan obat-obatan seperti morfin, yang mengalami alkalosis
metabolik, atau yang mengalami peningkatan tekanan intrakranial (misalnya,
akibat cedera otak). Apnea adalah henti napas.
Hiperventilasi,
yang seringkali disebut hiperventilasi alveolar, adalah suatu peningkatan
pergerakan udara masuk dan keluar dari paru. Selama hiperventilasi, frekuensi
dan kedalaman pernapasan meningkat, dan lebih banyak CO2 yang dibuang daripada
yang dihasilkan. Sebuah tipe hiperventilasi tertentu yang menyertai asidosis
metabolik adalah pernapasan kusmaul,
yaitu tubuh berupaya untuk mengompensasi (mengeluarkan kelebihan asam tubuh)
dengan menghembuskan karbon dioksida melalui napas dalam dan pernapasan cepat.
Hiperventilasi dapat juga terjadi sebagai respons terhadap stres, seperti yang
dijelaskan sebelumnya.
Irama pernapasan abnormal
menyebabkan pola pernapasan yang tidak teratur. Dua irama pernapasan yang tidak
normal adalah
-
Pernapasan Cheyne-stokes. Irama
penguatan dan pelemahan pernapasan yang sangat jelas dari pernapasan yang
sangat dalam ke pernapasan yang sangat dangkal dan apnea temporer, penyebab
umum mencakup gagal jantung kongestif, peningkatan tekanan intrakranial, dan
overdosis obat.
-
Pernapasan blot (cluster). Pernapasan
dangkal yang diselingi dengan apnea; dapat terjadi pada klien penderita
penyakit sistem saraf pusat.
Ortopnea
adalah ketidakmampuan untuk bernapas kecuali dalam posisi tegak atau berdiri.
Kesulitan atau ketidaknyamanan pernapasan disebut dispnea. Orang yang mengalami
dispnea seringkali tampak cemas dan dapat mengalami pendek napas (shortness of
breath (SOB)), suatu perasaan tidak mampu memperoleh cukup udara (susah bernapas). Seringkali terjadi napas
cuping hidung karena peningkatan upaya inspirasi. Kulit dapat tampak gelap;
frekuensi jantung meningkat. Dispnea dapat memiliki banyak penyebab, sebagian
besar berasal dari gangguan jantung atau pernapasan. Dispnea adalah perasaan
subjektif; yaitu, dispnea mungkin tidak dapat di observasi atau diukur secara
langsung tetapi dilaporkan oleh klien. Karena terapi ditujukan untuk
menyingkirkan kondisi yang menyebabkan dispnea, sangat penting bagi perawat untuk
melakukan pengkajian menyeluruh tentang awitan, durasi, dan faktor pencetus
serta pereda dispnea klien ditambah dengan pengkajian fisik yang komprehensif.
· Obstruksi
Jalan Napas
Obstruksi jalan
napas total dan parsial dapat terjadi dimanapun di sepanjang slauran pernapasan
atas atau bawah. Obstruksi jalan napas atas yaitu, di hidung, faring, atau
laring, dapat terjadi karena benda asing seperti makanan, karena lidah akan
terjatuh ke belakang menutuo orofaring saat seseorang tidak sadar, atau saat
sekresi menumpuk di saluran napas. Dalam kondisi selanjutnya, pernapasan akan
terdengar,seperti suara gelembung saat udara berupaya melalui sekresi.
Obstruksi jalan napas bawah melibatkan sumbatan parsial atau komplet jalan
napas di bronkus dan paru.
Mempertahankan
jalan napas tetap terbuka (paten) adalah tanggung jawab keperawatan, salah satu
kondisi yang seringkali memerlukan tindakan segera. Obstruksi parsial pada
jalan napas atas diindikasikan oleh dengkuran bernada tinggi selama inhalasi.
Obstruksi komplet diindikasikan oleh upaya inspirasi ekstrem yang tidak
menghasilkan pergerakan dada. Klien tersebut, dalam upaya untuk mendapatkan
udara, juga dapat memperlihatkan retraksi sternum dan interkosta yang nyata.
Obstruksi jalan napas bawah tidak selalu mudah dipantau stridor, sebuah suara
keras bernada tinggi, dapat didengar selama inspirasi. Klien dapat mengalami
perubahan kadar gas darah arteri, gelisah, dispnea, dan mempunyai bunyi napas
tambahan (suara napas abnormal).
8. Mekanisme
Pertukaran Gas
Pertukaran
gas secara difusi. Proses pertama yaitu pertukaran O² dari udara dalam alveolus
dengan CO² dalam kapiler darah yang disebut dengan pernapasan luar ( pernapasan
eksternal), sedangkan proses yang kedua adalah pertukaran O² dari
aliran darah dengan CO² dari sel-sel jaringan tubuh yang disebut pernapasan
dalam (pernapasan internal).
Ø Pengangkutan
O2
Pertukaran
gas antara O2 dengan CO2 terjadi di dalam alveolus dan jaringan tubuh, melalui
proses difusi. Oksigen yang sampai di alveolus akan berdifusi menembus selaput
alveolus dan berikatan dengan hemoglobin (Hb) dalam darah yang disebut
deoksigenasi dan menghasilkan senyawa oksihemoglobin (HbO) seperti reaksi
berikut:
Adapun
tahapan proses pengikatan oksigen diatas adalah sebagai berikut:
·
Alveolus memiliki O2 lebih tinggi dari
pada O2 di dalam darah.
·
O2 masuk ke dalam darah melalui difusi
melewati membran alveolus
·
Di dalam darah, O2 sebagian besar (98%)
diikat oleh Hb yang terdapat pada eritrosit menjadi oksihemoglobin (HbO2)
·
Selain diikat oleh Hb, sebagian kecil O2
larut di dalam plasma darah (2%)
·
Setelah berada di dalam darah, O2
kemudian masuk ke dalam jantung melalui vena pulmonalis untuk diedarkan
keseluruh tubuh yang membutuhkan melalui jaringan sel untuk proses oksidasi.
O2
yang sudah terikat oleh hemoglobin dalam bentuk oksihemoglobin tadi diangkut
menuju sel, dengan reaksi :
O2
yang masuk kedalam jaringan kemudian akan diberikan kepada mitokondria
(organela sel) untuk respirasi seluler. Dari respirasi seluler itulah energi
dihasilkan. Tetapi dalam peristiwa ini tidak hanya O2 saja yang diperlukan,
melainkan juga makanan yang terlarut dalam darah.
Ø Pengangkutan
CO²
Proses
oksidasi atau pembakaran dalam sel akan menghasilkan CO2 sebagai hasil
respirasi sel yang kemudian akan diangkut lewat kapiler vena darah menuju
alveolus. CO2 dalam alveolus ini akan
dikeluarkan lewat paru-paru. Pengankutan CO2 ke luar tubuh umumnya berlangsung
menurut reaksi kimia berikut:
Adapun
tahapan proses pengeluaran karbondioksida diatas adalah sebagai berikut:
·
Di jaringan, CO2 lebih tinggi
dibandingkan yang ada di dalam darah. Ketika O2 di dalam darah berdifusi ke
jaringan, maka CO2 di jaringan akan segera masuk ke dalam darah.
·
Ketika CO2 berada di dalam darah
sebagian besar (70%) CO2 akan di ubah menjadi ion bikarbonat (HCO3ˉ)
·
20% CO2 akan terikat oleh Hb pada
eritrosit. Sedangkan 10% CO2 lainnya larut dalam plasma darah.
·
Di dalam darah, CO2 di bawah ke jantung,
kemudian oleh jantung CO2 dalam darah di pompa ke paru-paru melalui arteri
pulmonalis.
Di paru-paru CO2 akan
dikeluarkan dari tubuh melalui ekspirasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar