Minggu, 22 Mei 2016

ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM

ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM
Oleh : Febriani Fitria
Mahasiswa S1-Keperawatan Kelas 2A

Saya memilih kasus kejang demam karena kejang demam merupakan kasus yang umum ditemui di masyarakat terutama pada anak. Insiden kejang demam di berbagai negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa barat mencapai 2-4% sedangkan di negara-negara Asia jumlah penderitanya lebih tinggi lagi yaitu sekitar 20%. Di Indonesia terdapat 5 (6,5%) diantara 83 pasien kejang demam menjadi epilepsi. Penanganan kejang demam harus tepat, karena sekitar 16%  anak akan mengalami kekambuhan (Dwi Hartanto, 2012). Penanganan kejang demam harus tepat Saya sendiri belum pernah melihat secara langsung bagaimana pasien dengan kejang bagaimana tindakan yang harus dilakukan bila ada pasien kejang. Maka dari itu saya sangat ingin mengetahui bagaimana tindakan keperawatan yang tepat untuk mengatasi kejang demam tersebut, sehingga jika suatu saat saya berhadapan dengan seorang anak dengan kejang demam saya sudah tau tindakan apa yang harus saya lakukan.
Menurut A. Aziz Alimul Hidayat (99: 2008) mengemukakan bahwa “kejang demam merupakan bangkitan kejang yang dapat terjadi karena peningkatan suhu akibat proses ekstrakranium (diluar rongga tengkorak) dengan ciri terjadi antarusia 6 bulan-4 tahun, lamanya kurang dari 15 menit dapat bersifat umum dan dapat terjadi 16 jam setelah timbulnya demam. Kejang demam merupakan gangguan pada fungsi otak yang normal sebagai akibat dari aliran elektrik yang abnormal di otak, yang menyebabkan hilang kesadaran, gerakan tubuh tidak terkendali, perubahan perilaku dan sensasi, perubahan sistem otonom dan sebagian terjadi pada tahun pertama kehidupan.(Mary E,Muscari,2005). Kejang demam atau febrile convulsions adalah manifestasi dari anggota badan akibat rangsangan panas pada susunan saraf pusat motorik. (Oktavia,2008). Kejang demam adalah kejang pada bayi atau anak-anak yang terjadi akibat demam, tanpa adanya infeksi pada susunan saraf pusat maupun kelainan saraf lain. (Arif mansjoer, 2000). Kejang demam menurut Judha & Nazwar (2011)  merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering di jumpai pada anak-anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38ÂșC) yang di sebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran pernafasan bagian atas di susul infeksi saluran pencernaan. Sedangkan menurut saya definisi dari kejang demam adalah keadan dimana seorang anak mengalami kejang-kejang yang disebabkan karena suhu tubuh yang terlalu tinggi yaitu lebih dari 38°C yang biasanya sering terjadi pada anak dari usia 6 bulansampai dengan 5 tahun. Jadi dapat disimpulkan bhwa kejang demam adalah suatu bangkitang kejang yang diawali dengan peningkatan suhu lebih dari 38°C yang umumnya terjadi pada anak-anak usia 6 bulan- 4 atau 5 tahun.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang seorang anak dengan kejang demam saya perlu melakukan pengkajian. Dalam pengkajian keperawatan, ada beberapa jenis pengkajian diantaranya yaitu pengkajian head to toe, pengkajian persistem, pengkajian pola Gordon. Disini saya melakukan pengkajian pola Gordon. Pengkajian pola Gordon adalah pengkajian yang mengkaji 11 pola kesehatan fungsional. Saya akan mengkaji beberapa hal meliputi : pola tumbuh kembang, pola nutrisi, pola tidur dan istirahat, pola aktivitas dan latihan, pola persepsi kognitif, keamanan, pola mekanisme koping.
Yang pertama yaitu saya akan mengkaji tumbuh kembang, saya mengkaji tumbuh kembang karena pertumbuhan dan perkembangan pada tahun kedua akan mengalami kenaikan berat bada sekitar 1,6-2,5 Kg dan panjang badan 6-10 cm kemudian pertumbuhan otak juga akan mengalami pertumbuhan yaitu kenaikan lingkar kepala sekitar 2 cm dan untuk pertumbuhan gigi terdapat tambahan 8 buah gigi pada pasien dengan kejang demam kemungkinan pertumbuhan dan perkembangan tersebut bisa terganggu. Cara mengkajinya yaitu dengan bertanya pada keluarga pasien apakah terjadi penurunan berat badan, apakah ada perkembangan pada anak yang terhambat misalnya anak usia 13 bulan tetapi masih belum bisa berjalan, apakah terjadi keterlambatan pada fase berbicaranya misalnya pada anak usia 2 tahun tetapi masih belum bisa berbicara dan juga apakah terjadi keterlambatan pada pertumbuhan giginya misalnya pada anak usia 2 tahun tetapi tetapi gigi yang tumbuh hanya 11 gigi padahal seharusnya ada 14 sampai 16 gigi.
Yang kedua yaitu saya akan mengkaji nutrisi. Pengkajian nutrisi berkaitan dengan pola makan dan minum sehari-hari. Biasanya anak dengan kejang demam mengalami penurunan nafsu makan dan cenderung rewel. Cara mengkajinya yaitu tanyakan pada keluarga pasien pola makan sebelum dan selama sakit, apakah ada perbuhan pola makan meliputi frekuensi dan juga porsinya. Kemudian apakah pasien mengalami penurunan berat badan selam sakit.
Yang ketiga saya akan mengkaji pola tidur dan istirahat, saya mengkaji pola tidur dan istirahat karena biasanya pasien tampak mengantuk dan banyak menguap. Kita tanyakan pada keluarga pasien bagaimana kebiasaan tidur sebelum dan selama sakit, apakah ada perubahan, kemudian tanyakan apakah pasien biasa tidur dalam keadaan gelap atau terang, apakah pasien juga sering terbangun karena ngompol, batuk berlendir, sesak.
Yang keempat saya akan mengkaji pola aktivitas dan latihan, saya mengkaji pola aktivitas dan latihan karena biasanya pada anak dengan kejang demam pola aktvitasnya akan terganggu, anak akan rewel, semua aktivitas dibantu, tidak ada anggota gerak yang cacat biasanya anak akan lebih sering menangis. Cara mengkajinya yaitu tanyakan pada keluarga pasien kebiasaan aktivitas di rumah sebelum sakit dan selama sakit, kegiatan disekolah, kemampuan yang telah dicapai seperti berjalan, duduk. Apakah ada kelemahan anggota gerak atau tidak.
Yang kelima saya akan mengkaji pola persepsi kognitif, saya mengkaji pola persepsi kognitif karena biasanya pasien akan mengalami penurunan kesadaran, pandangannya juga kurang focus, tetapi pada penglihatan dan pendengarannya biasanya normal. Pasien biasanya juga tampak rewl dan menangis. Cara mengkaji pola persepsi kognitif yaitu bagaimana respon pasien pada saat sakit, apakah pasien masih dapat merespon perkataan dari orang lain dengan baik
Yang keenam saya akan mengkaji keamanan. Biasanya pada anak ketika kejang akan menimbulkan gerakan-gerakan abnormal yang kaku dan tidak terkendali. Cara mengkajinya yaitu kita tanyakan pada keluarga pasien anak berada dimana pada saat kejang, kemudian apakah anak menggigit sesuatu ketika kejang.
Yang ketujuh saya akan mengkaji pola mekanisme koping dan toleransi, saya mengkaji pola mekanisme koping dan toleransi karena biasanya anak hanya akan tenang di dekat keluarganya seperti ibunya, dan ketika ada perawat yang mendekati anak tersebut anat itu akan menangis. Cara mengkajinya yaitu tanyakan kepada keluarga bagaimana respon anak pada saat sakit, apakh melempar mainan, mengompol, menghisap jari atau menangis. Tanyakan juga kepada keluarga,usaha apa yang dilakukan untuk menenangkan sang anak.
Dari pengkajian diatas saya mengangkat 2 diagnosa keperawatan, yang pertama yaitu hipertermi berhubungan dengan adanya infeksi, yang kedua saya akan mengangkat diagnosa perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat Alasan saya mengangkat diagnosa hipertermi karena penyebeb utama dari kejang demam adalah demam dengan suhu yang tinggi yaitu lebih dari 38°C, jika demamnya dapat diatasi dengan baik maka kemungkinan akan terjadi kejang sangat kecil. Kemudian untuk alasan mengapa saya mengangkat diagnose perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan, karena biasanya pada anak dengan kejang demam akan rewel dan susah sekali untuk makan, hal tersebut menyebabkan penurunan berat badan terhadap anak.
Dari kedua diagnosa tersebut saya akan melakukan intervensi keperawatan agar masalah keperawatan dapat teratasi.
Yang pertama saya akan melakukan intervensi keperawatan untuk diagnosa hipertermi. Intervensi yang saya lakukan adalah pertama saya akan mengkaji penyebab dari hipertermi tersebut. apakah hipertermi disebabkan oleh adanya infeksi misalnya infeksi pada saluran pernafasan seperti bronchitis. Karena hipertermi merupakan salah satu gejala atau kompensasi tubuh terhadap adanya infeksi baik secara lokal maupun sistemik. Selanjutnya saya akan memeriksa tanda-tanda vital (Nadi, RR, Suhu, TD). Karena pada pasien dengan hipertermi terjadi kenaikan tanda-tanda vital terutama suhu, nadi, dan pernafasan. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan metabolisme tubuh. Setelah itu hal yang saua lakukan adalah member kompres hangat pada daerah dahi dan aksila. Karena daerah dahi dan aksila merupakan jaringan tipis dan terdapat pembuluh darah sehingga proses perpindahan panas lebih cepat. Kemudian saya akan meiminta keluarga untuk memberikan minum sedikit-sedikit tapi sering yaitu sekitar 6-8 gelas kepada sang anak. Karena cairan tersebut akan mengganti cairan yang hilang dan mempertahankan keseimbangan cairan di dalam tubuh. Selanjutnya saya akan meminta pada keluarga untuk memakaikan pakaian tipis pada pasien dan yang dapat menyerap keringat. Karena pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat dapat mepercepat penurunan demam. Kemudian saya akan mempertahankan pemberian cairan infus. Karenan cairan infus dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan mengganti cairan tubuh yang hilang. Dan yang terakhir saya akan melakukan kolaborasi dengan petugas medis dalam pemberian obat antipiretik. Karena pemberian obat antipiretik dimana kerjanya yaitu sebagai pengatur kembali pada pusat pengatur panas terutama bagian hipotalamus posterior sebagai penyimpan panas. Dengan dilakukannya intervensi keperawatan tersebut diharapkan suhu kembali normal yaitu antara 36,5oC-37,5oC dan peningkatan suhu tubuh dapat terkontrol selama proses infeksi berlangsung.
Yang kedua saya akan melakukan intervensi keperawatan untuk diagnosa perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan. Intervensi yang akan saya lakukan adalah pertama saya akan mengkaji pola makan pasien meliputi frekuensi (berapa kali), jadwal makan, jenis makanan, dan porsi makanan. Karena adanaya perubahan pola makan seperti nafsu makan menurun atau pemasangan NGT berarti pasien tersebut dalam kondisi yang buruk. Kemudian saya akan memantau pemasukan dan pengeluaran makanan pada pasien. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pemasukan dan pengeluaran yang dikaitkan dengan kebutuhan makanan pasien. Selanjtunya saya akan meminta kepada keluarga agar meberi makan sedikit-sedikit tapi sering (3-5 kali). Karena makan sedikit-sedikit tapi sering dapat membantu mengurangi distensi lambung (kembung) sehingga mengurangi rangsangan mual dan muntah. Kemudian saya akan mmebrikan makanan yang bervariasi yang sesuai dengan makanan kesukaan pasien misal biskuit. Kkarena makanan yang bervariasi bisa menmbah nafsu makan pasien. Kemudian saya akan melakukan penimbangan berat badan setiap hari. Karena penimbangan berat badan penting untuk mengetahui perubahan status nutrisi pasien. Dan yang terakhir yaitu tetap mempertahankan pemeberian caira infuse. Karena cairan infuse juga membantu dalam memenuhi nutrisi pasien. Dari intervensi keperawatan tersebut diharapkan pemasukan makanan adekuat sehingga dapat meningkatkan dan mempertahankan berat badan.

REFERENSI :
-          Silfablog.blogspot.com
-          Referensikesehata.blogspot.com
-          Marashian.blogspot.com

-          Keperawatanurscimmya.blogspot.com