ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM
Oleh : Febriani Fitria
Mahasiswa S1-Keperawatan Kelas 2A
Saya memilih kasus kejang
demam karena kejang demam merupakan kasus yang umum ditemui di masyarakat
terutama pada anak. Insiden kejang demam di berbagai negara maju seperti
Amerika Serikat dan Eropa barat mencapai 2-4% sedangkan di negara-negara Asia
jumlah penderitanya lebih tinggi lagi yaitu sekitar 20%. Di Indonesia terdapat
5 (6,5%) diantara 83 pasien kejang demam menjadi epilepsi. Penanganan kejang
demam harus tepat, karena sekitar 16%
anak akan mengalami kekambuhan (Dwi Hartanto, 2012). Penanganan kejang
demam harus tepat Saya sendiri belum pernah melihat secara langsung bagaimana
pasien dengan kejang bagaimana tindakan yang harus dilakukan bila ada pasien
kejang. Maka dari itu saya sangat ingin mengetahui bagaimana tindakan
keperawatan yang tepat untuk mengatasi kejang demam tersebut, sehingga jika
suatu saat saya berhadapan dengan seorang anak dengan kejang demam saya sudah
tau tindakan apa yang harus saya lakukan.
Menurut A. Aziz Alimul Hidayat (99: 2008) mengemukakan bahwa
“kejang demam merupakan bangkitan kejang yang dapat terjadi karena peningkatan
suhu akibat proses ekstrakranium (diluar rongga tengkorak) dengan ciri terjadi
antarusia 6 bulan-4 tahun, lamanya kurang dari 15 menit dapat bersifat umum dan
dapat terjadi 16 jam setelah timbulnya demam. Kejang demam merupakan gangguan pada fungsi otak yang
normal sebagai akibat dari aliran elektrik yang abnormal di otak, yang
menyebabkan hilang kesadaran, gerakan tubuh tidak terkendali, perubahan
perilaku dan sensasi, perubahan sistem otonom dan sebagian terjadi pada tahun
pertama kehidupan.(Mary E,Muscari,2005).
Kejang demam atau febrile convulsions adalah manifestasi
dari anggota badan akibat rangsangan panas pada susunan saraf pusat motorik.
(Oktavia,2008). Kejang
demam adalah kejang pada bayi atau anak-anak yang terjadi akibat demam, tanpa
adanya infeksi pada susunan saraf pusat maupun kelainan saraf lain. (Arif
mansjoer, 2000). Kejang
demam menurut Judha & Nazwar (2011)
merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering di jumpai pada
anak-anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal di atas 38ÂșC) yang di sebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam
terbanyak adalah infeksi saluran pernafasan bagian atas di susul infeksi
saluran pencernaan.
Sedangkan menurut saya definisi dari kejang demam
adalah keadan dimana seorang anak mengalami kejang-kejang yang disebabkan
karena suhu tubuh yang terlalu tinggi yaitu lebih dari 38°C yang biasanya
sering terjadi pada anak dari usia 6 bulansampai dengan 5 tahun. Jadi dapat
disimpulkan bhwa kejang demam adalah suatu bangkitang kejang yang diawali
dengan peningkatan suhu lebih dari 38°C yang umumnya terjadi pada anak-anak usia
6 bulan- 4 atau 5 tahun.
Untuk mengetahui lebih
lanjut tentang seorang anak dengan kejang demam saya perlu melakukan
pengkajian. Dalam pengkajian keperawatan, ada beberapa jenis pengkajian
diantaranya yaitu pengkajian head to toe, pengkajian persistem, pengkajian pola
Gordon. Disini saya melakukan pengkajian pola Gordon. Pengkajian pola Gordon
adalah pengkajian yang mengkaji 11 pola kesehatan fungsional. Saya akan
mengkaji beberapa hal meliputi : pola tumbuh kembang, pola nutrisi, pola tidur
dan istirahat, pola aktivitas dan latihan, pola persepsi kognitif, keamanan,
pola mekanisme koping.
Yang pertama yaitu saya
akan mengkaji tumbuh kembang, saya mengkaji tumbuh kembang karena pertumbuhan
dan perkembangan pada tahun kedua akan mengalami kenaikan berat bada sekitar
1,6-2,5 Kg dan panjang badan 6-10 cm kemudian pertumbuhan otak juga akan
mengalami pertumbuhan yaitu kenaikan lingkar kepala sekitar 2 cm dan untuk
pertumbuhan gigi terdapat tambahan 8 buah gigi pada pasien dengan kejang demam
kemungkinan pertumbuhan dan perkembangan tersebut bisa terganggu. Cara
mengkajinya yaitu dengan bertanya pada keluarga pasien apakah terjadi penurunan
berat badan, apakah ada perkembangan pada anak yang terhambat misalnya anak
usia 13 bulan tetapi masih belum bisa berjalan, apakah terjadi keterlambatan
pada fase berbicaranya misalnya pada anak usia 2 tahun tetapi masih belum bisa
berbicara dan juga apakah terjadi keterlambatan pada pertumbuhan giginya
misalnya pada anak usia 2 tahun tetapi tetapi gigi yang tumbuh hanya 11 gigi
padahal seharusnya ada 14 sampai 16 gigi.
Yang kedua yaitu saya
akan mengkaji nutrisi. Pengkajian nutrisi berkaitan dengan pola makan dan minum
sehari-hari. Biasanya anak dengan kejang demam mengalami penurunan nafsu makan
dan cenderung rewel. Cara mengkajinya yaitu tanyakan pada keluarga pasien pola
makan sebelum dan selama sakit, apakah ada perbuhan pola makan meliputi
frekuensi dan juga porsinya. Kemudian apakah pasien mengalami penurunan berat
badan selam sakit.
Yang ketiga saya akan
mengkaji pola tidur dan istirahat, saya mengkaji pola tidur dan istirahat
karena biasanya pasien tampak mengantuk dan banyak menguap. Kita tanyakan pada
keluarga pasien bagaimana kebiasaan tidur sebelum dan selama sakit, apakah ada
perubahan, kemudian tanyakan apakah pasien biasa tidur dalam keadaan gelap atau
terang, apakah pasien juga sering terbangun karena ngompol, batuk berlendir,
sesak.
Yang keempat saya akan
mengkaji pola aktivitas dan latihan, saya mengkaji pola aktivitas dan latihan
karena biasanya pada anak dengan kejang demam pola aktvitasnya akan terganggu,
anak akan rewel, semua aktivitas dibantu, tidak ada anggota gerak yang cacat
biasanya anak akan lebih sering menangis. Cara mengkajinya yaitu tanyakan pada
keluarga pasien kebiasaan aktivitas di rumah sebelum sakit dan selama sakit,
kegiatan disekolah, kemampuan yang telah dicapai seperti berjalan, duduk.
Apakah ada kelemahan anggota gerak atau tidak.
Yang kelima saya akan
mengkaji pola persepsi kognitif, saya mengkaji pola persepsi kognitif karena
biasanya pasien akan mengalami penurunan kesadaran, pandangannya juga kurang
focus, tetapi pada penglihatan dan pendengarannya biasanya normal. Pasien
biasanya juga tampak rewl dan menangis. Cara mengkaji pola persepsi kognitif
yaitu bagaimana respon pasien pada saat sakit, apakah pasien masih dapat
merespon perkataan dari orang lain dengan baik
Yang keenam saya akan
mengkaji keamanan. Biasanya pada anak ketika kejang akan menimbulkan
gerakan-gerakan abnormal yang kaku dan tidak terkendali. Cara mengkajinya yaitu
kita tanyakan pada keluarga pasien anak berada dimana pada saat kejang,
kemudian apakah anak menggigit sesuatu ketika kejang.
Yang ketujuh saya akan
mengkaji pola mekanisme koping dan toleransi, saya mengkaji pola mekanisme
koping dan toleransi karena biasanya anak hanya akan tenang di dekat
keluarganya seperti ibunya, dan ketika ada perawat yang mendekati anak tersebut
anat itu akan menangis. Cara mengkajinya yaitu tanyakan kepada keluarga
bagaimana respon anak pada saat sakit, apakh melempar mainan, mengompol,
menghisap jari atau menangis. Tanyakan juga kepada keluarga,usaha apa yang
dilakukan untuk menenangkan sang anak.
Dari pengkajian diatas
saya mengangkat 2 diagnosa keperawatan, yang pertama yaitu hipertermi
berhubungan dengan adanya infeksi, yang kedua saya akan mengangkat diagnosa
perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat Alasan saya mengangkat diagnosa hipertermi karena penyebeb utama dari
kejang demam adalah demam dengan suhu yang tinggi yaitu lebih dari 38°C, jika
demamnya dapat diatasi dengan baik maka kemungkinan akan terjadi kejang sangat
kecil. Kemudian untuk alasan mengapa saya mengangkat diagnose perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan, karena biasanya pada anak dengan kejang demam akan rewel
dan susah sekali untuk makan, hal tersebut menyebabkan penurunan berat badan
terhadap anak.
Dari kedua diagnosa
tersebut saya akan melakukan intervensi keperawatan agar masalah keperawatan
dapat teratasi.
Yang pertama saya akan
melakukan intervensi keperawatan untuk diagnosa hipertermi. Intervensi yang
saya lakukan adalah pertama saya akan mengkaji penyebab dari hipertermi
tersebut. apakah hipertermi disebabkan oleh adanya infeksi misalnya infeksi
pada saluran pernafasan seperti bronchitis. Karena hipertermi merupakan salah
satu gejala atau kompensasi tubuh terhadap adanya infeksi baik secara lokal
maupun sistemik. Selanjutnya saya akan memeriksa tanda-tanda vital (Nadi, RR,
Suhu, TD). Karena pada pasien dengan hipertermi terjadi kenaikan tanda-tanda
vital terutama suhu, nadi, dan pernafasan. Hal ini disebabkan karena terjadinya
peningkatan metabolisme tubuh. Setelah itu hal yang saua lakukan adalah member
kompres hangat pada daerah dahi dan aksila. Karena daerah dahi dan aksila
merupakan jaringan tipis dan terdapat pembuluh darah sehingga proses
perpindahan panas lebih cepat. Kemudian saya akan meiminta keluarga untuk
memberikan minum sedikit-sedikit tapi sering yaitu sekitar 6-8 gelas kepada
sang anak. Karena cairan tersebut akan mengganti cairan yang hilang dan
mempertahankan keseimbangan cairan di dalam tubuh. Selanjutnya saya akan
meminta pada keluarga untuk memakaikan pakaian tipis pada pasien dan yang dapat
menyerap keringat. Karena pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat dapat
mepercepat penurunan demam. Kemudian saya akan mempertahankan pemberian cairan
infus. Karenan cairan infus dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan
mengganti cairan tubuh yang hilang. Dan yang terakhir saya akan melakukan
kolaborasi dengan petugas medis dalam pemberian obat antipiretik. Karena
pemberian obat antipiretik dimana kerjanya yaitu sebagai pengatur kembali pada
pusat pengatur panas terutama bagian hipotalamus posterior sebagai penyimpan
panas. Dengan dilakukannya intervensi keperawatan tersebut diharapkan suhu
kembali normal yaitu antara 36,5oC-37,5oC dan peningkatan
suhu tubuh dapat terkontrol selama proses infeksi berlangsung.
Yang kedua saya akan
melakukan intervensi keperawatan untuk diagnosa perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan. Intervensi yang akan saya lakukan adalah pertama saya akan mengkaji
pola makan pasien meliputi frekuensi (berapa kali), jadwal makan, jenis
makanan, dan porsi makanan. Karena adanaya perubahan pola makan seperti nafsu
makan menurun atau pemasangan NGT berarti pasien tersebut dalam kondisi yang
buruk. Kemudian saya akan memantau pemasukan dan pengeluaran makanan pada
pasien. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pemasukan dan pengeluaran yang
dikaitkan dengan kebutuhan makanan pasien. Selanjtunya saya akan meminta kepada
keluarga agar meberi makan sedikit-sedikit tapi sering (3-5 kali). Karena makan
sedikit-sedikit tapi sering dapat membantu mengurangi distensi lambung
(kembung) sehingga mengurangi rangsangan mual dan muntah. Kemudian saya akan
mmebrikan makanan yang bervariasi yang sesuai dengan makanan kesukaan pasien
misal biskuit. Kkarena makanan yang bervariasi bisa menmbah nafsu makan pasien.
Kemudian saya akan melakukan penimbangan berat badan setiap hari. Karena penimbangan
berat badan penting untuk mengetahui perubahan status nutrisi pasien. Dan yang
terakhir yaitu tetap mempertahankan pemeberian caira infuse. Karena cairan
infuse juga membantu dalam memenuhi nutrisi pasien. Dari intervensi keperawatan
tersebut diharapkan pemasukan makanan adekuat sehingga dapat meningkatkan dan
mempertahankan berat badan.
REFERENSI :
-
Silfablog.blogspot.com
-
Referensikesehata.blogspot.com
-
Marashian.blogspot.com
-
Keperawatanurscimmya.blogspot.com









































